Penyebab, Jenis, dan Cara Mengobati Keputihan

5 bulan lalu   |     |   by haigadis

Penyebab, Jenis, dan Cara Mengobati Keputihan

Hai, Girls. Sebagai wanita normal, kita sering mengalami keputihan, bukan? Keputihan yang merupakan cairan / lendir yang keluar dari kemaluan kita adalah hal yang umum terjadi karena berfungsi menjaga kebersihan dan kelembapan organ kewanitaan.

Sebenarnya keputihan itu apa sih? Keputihan atau yang juga dikenal dengan istilah leukorrhea adalah cairan yang diproduksi kemaluan kita secara berkala. Cairan ini secara alami melakukan tugasnya yang menandakan tubuh bekerja semestinya membersihkan bakteri, iritasi, serta infeksi dan mengganti sel-sel lama dengan sel baru.

Selain membersihkan organ kemaluan, keputihan juga menjadi cara melindunginya dari masalah kesehatan yang serius sekaligus penanda sebuah penyakit yang mungkin kita alami. Namun demikian, kita harus bisa membedakan mana keputihan normal dan keputihan yang nggak normal, Girls. Ada beberapa gejala yang harus kita ketahui berikut ini.

Gejala Keputihan

Gejala keputihan normal:

  1. Cairan keputihan nggak berwarna (bening) atau berwarna putih susu.
  2. Cairan keputihan akan tebal dan lengket saat menjelang siklus haid.
  3. Cairan nggak memiliki bau, atau bau menyengat.
  4. Di celana dalam kita, cairan akan meninggalkan jejak kekuningan.
  5. Tesktur cairan keputihan dapat berubah tergantung siklus menstruasi.
  6. Muncul cukup banyak dengan tekstur licin dan basah beberapa hari di antara siklus haid atau selama ovulasi.

Gejala keputihan nggak normal:

  1. Cairan keputihan akan berbeda warna, bau, atau tekstur dari biasanya. Warna keputihan bisa bervariasi, dari mulai putih, kekuningan, kehijauan, abu-abu, hingga kemerahan (karena bercampur darah). Sementara baunya tidak sedap, amis, anyir, busuk yang cukup menyengat.
  2. Cairan keputihan keluar lebih banyak dari biasanya.
  3. Keluar darah setelah berhubungan seksual atau di luar jadwal haid.
  4. Keputihan disertai gatal atau perih.
  5. Keputihan disertai nyeri di panggul atau nyeri ketika buang air kecil.
  6. Ada rasa terbakar di area kemaluan.

Kalau kamu mengalami gejala keputihan yang nggak normal tersebut, HaiGadis sarankan langsung periksa ke dokter ya, Girls. Namun, setelah mengetahui gejalanya, kamu juga harus tahu penyebab keputihan. Karena, penyebab keputihan normal dan nggak normal tentu saja berbeda. Nah, simak yuk!

Penyebab keputihan:

  1. Perubahan hormon

    Hormon pada wanita memang rentan mengalami perubahan. Sebagai contoh, keputihan yang terjadi setidaknya 6 bulan sebelum seorang wanita mengalami menstruasi untuk pertama kalinya.

  2. Ovulasi

    Saat ovulasi, area sekitar serviks akan menghasilkan cairan putih dalam jumlah banyak. Jangan khawatir, cairan ini memiliki manfaat lho. Pertama, untuk membantu sperma masuk ke serviks lalu berlanjut ke rahim dan melakukan pembuahan di tuba falopi. Kedua, cairan ini juga menyeleksi sperma sehat yang bisa masuk ke dalam atau dihentikan di luar. Hal ini biasanya muncul pada hari ke-12 hingga ke-14 setelah menstruasi terakhir. Kalau kamu mendapati keputihan di fase ini, artinya kamu sedang ada pada masa subur, Girls.

  3. Stres

    Saat kita sedang stres, hormon di dalam tubuh akan mengalami fluktuasi lho Girls. Dampaknya, cairan di area kemaluan akan keluar dalam jumlah banyak. Cairan ini tidak memberikan efek apa-apa. Namun, kita tetap harus menjaga kebersihan agar terhindar dari kemungkinan terjadi infeksi.

  4. Tanda kehamilan

    Wanita yang mengalami kehamilan juga terjadi keputihan normal lho, Girls. Keputihan ini memiliki warna putih susu dengan konsistensi yang berbeda-beda. Semakin mendekati trimester akhir, cairan akan semakin kental sehingga rahim dan janin akan terlindungi dari infeksi.

  5. Memasuki menopause

    Seperti kita tahu, bahwa wanita yang usianya sudah berada di angka 50 tahun juga kerap mengalami keputihan. Cairan keputihan yang dihasilkan dipicu menurunnya hormon saat masa menopause sehingga wanita mulai mengalami menstruasi yang tidak teratur. Hal ini akan memicu ketidakseimbangan bakteri di kemaluan, bahkan bisa menyebabkan radang (vaginitis).

  6. Efek samping kontrasepsi

    Wanita memang terkadang membutuhkan kontrasepsi untuk mencegah kehamilan yang berlebihan. Kontrasepsi yang digunakan juga memengaruhi jumlah cairan keputihan, lho Girls. Alat kontrasepsi memiliki kandungan hormon wanita, sehingga tubuh akan meresponsnya dengan menghasilkan banyak cairan di area kemaluan. Nggak usah khawatir, keluarnya carian keputihan ini cukup wajar kok meski sering membuat kita nggak nyaman.

  7. Minum antibiotik

    Minum antibiotik juga dapat menyebabkan keputihan, Girls. Cairan yang keluar dari kemaluan kita biasanya akan sedikit menggumpal dan keluar dalam jumlah banyak.

Penyebab keputihan yang perlu diwaspadai:

  1. Infeksi jamur

    Salah satu penyebab keputihan abnormal adalah infeksi jamur Candida albicans yang dapat menyebabkan cairan keputihan berupa bongkahan-bongkahan kental berwarna putih keruh yang diselimuti cairan encer berair. Infeksi jamur ini umumnya disebabkan oleh stres, memiliki penyakit diabetes kronis, menggunakan alat kontrasepsi, hamil, minum antibiotik, dan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Namun demikian, yang sangat perlu diwaspadai adalah keputihan akibat infeksi jamur karena penyakit diabetes kronis maupun sistem kekebalan tubuh yang lemah akibat obat atau penyakit. Misalnya saja penyakit HIV.

  2. Infeksi bakteri

    Infeksi area kemaluan akibat bakteri dinamakan bacterial vaginosis. Tanda dan gejala yang muncul antara lain: keputihan berwarna putih, keabuan, atau hijau; kemaluan terasa gatal; ada rasa terbakar saat buang air kecil; dan berbau nggak sedap. Hal ini biasanya akan terjadi kalau kita sering berganti-ganti pasangan seksual dan nggak mempraktikkan seks aman.

  3. Radang leher rahim (serviks)

    Radang pada leher rahim dapat menyebabkan keputihan yang perlu diwaspadai, Girls. Peradangan pada serviks ini disebabkan oleh infeksi
    menular seksual, alergi alat kontrasepsi, dan pertumbukan bakteri berlebih. Munculnya keputihan abnormal ini bahkan disertai dengan gejala lain, misalnya sakit saat kencing hingga perdarahan setelah seks.

  4. Radang panggul

    Radang panggul biasanya ditandai dengan keputihan berlebih dan warnanya yang nggak biasa serta berbau tak sedap. Radang ini disebabkan oleh bakteri yang ditularkan melalui aktivitas seksual. Bakteri ini akan menyebar ingga ke rahim, saluran tuba, dan ovarium.

  5. Kanker serviks

    Penyakit ini menyerang leher rahim dengan keputihan tidak normal sebagai salah satu tandanya. Cairan keputihan yang keluar umumnya berwarna putih dengan tekstur cair atau cokelat disertai darah plus bau menyengat.

  6. Kencing nanah (gonore)

    Kencing nanah disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae yang akan menyebabkan keputihan nggak normal terjadi. Bakteri ini umumnya ditularkan melalui hubungan seksual antara orang yang terinfeksi dengan orang yang sehat. Terutama pada orang yang sering berganti pasangan seksual dan melakukan seks yang nggak aman, Girls.

  7. Trikomoniasis

    Penyakit infeksi menular seksual yang disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginali ini bisa ditandai dengan keputihan yang berwarna keabuan, kuning, atau hijau. Selain itu, cairan vagina biasanya mengeluarkan bau nggak sedap yang cukup menyengat. Waspadai ya, Girls.

Nah, kalau keputihan-keputihan yang perlu diwaspadai tersebut terjadi, kamu harus tahu cara mengatasinya, Girls.

Pengobatan keputihan:

Untuk keputihan normal, tentu saja mengatasinya nggak butuh penanganan medis secara khusus. Kita dapat melakukannya dengan membersihkan area kewanitaan secara rutin untuk menghilangkan cairan atau lendir keputihan tersebut. Kendati demikian, untuk mengobati keputihan tidak normal, kita tetap memerlukan saran dokter. Pengobatan pun dilakukan sesuai dengan penyebab keputihan yang terjadi.

  1. Obat antibiotik untuk keputihan karena bakteri

    Antibiotik biasanya tersedia dalam bentuk pil atau krim oles yang akan mengurangi bakteri penyebab keputihan abnormal. Obat antibiotik digunakan untuk keputihan yang disebabkan oleh infeksi bakteri (bacterial vaginosis). Contoh obatnya antara lain Metronidazole (Flagyl) yang berbentuk pil atau gel dan dioleskan pada vagina, Tinidazole (Tindamax) yang berbentuk krim dan dioleskan tipis-tipis pada vagina, serta Clindamycin yang berbentuk krim yang fungsinya akan mencegah bakteri menyebar ke bagian tubuh lain.

  2. Obat antijamur untuk keputihan karena infeksi jamur

    Obat ini tersedia dalam bentuk krim atau salep yang dioleskan di bagian dalam vagina. Bahkan obat bisa juga berbentuk tablet. Obat-obatan tersebut misalnya miconazole, terconazole, clotrimazole, atau butoconazole yang digunakan untuk jangka pendek selama tiga sampai tujuh hari. Sementara untuk gejala infeksi berat, obat yang digunakan adalah fluconazole.

  3. Obat untuk keputihan karena trikomoniasis

    Obat ini diberikan jika keputihan disebabkan oleh parasit penyebab penyakit trikomoniasis. Jenis obatnya antara lain antibiotik metronidazole (flagyl) atau tinidazole berbentuk pil dalam dosis tunggal.

  4. Obat untuk keputihan karena gonore

    Untuk keputihan akibat gonore, obat pada taraf ringan adalah penisilin. Namun, untuk kasus gonore parah, obat yang diberikan berupa Azithromycin, Doxycyclin, Ceftriaxone, dan Erythromycine. Tentu saja penggunaan obat-obat ini harus dikonsultasikan ke dokter, Girls.

  5. Obat untuk keputihan karena radang panggul

    Jika keputihan yang terjadi disebabkan karena radang panggul, maka obat-obatnya antara lain Ofloxacin dan Moxifloxacin.

  6. Obat untuk keputihan karena radang leher rahim (serviks)

    Obat yang digunakan untuk radang leher rahim tergantung dari jenis infeksi penyebabnya. Jika penyebabnya gonore, maka obat disesuaikan dengan obat infeksi karena gonore.

  7. Obat untuk keputihan karena kanker serviks

    Kalau untuk kasus yang satu ini, penanganannya nggak hanya pada keputihan saja Girls. Namun juga meliputi pengobatan untuk kankernya. Kemoterapi, radiasi, dan operasi menjadi prosedur pengobatan kanker serviks yang banyak digunakan. Akan tetapi, juga disertai penanganan dengan obat-obat seperti Cisplatin, Carboplatin, Paclitaxel, Topotecan, dan Gemcitabine.

Girls, pengobatan di atas adalah upaya kuratif jika keputihan abnormal atau tidak normal sudah terjadi. Namun, kita tetap harus melakukan pencegahan dengan upaya preventif, bukan? Karena mencegah lebih baik daripada mengobati. Dan berikut adalah beberapa cara mencegah keputihan.

Cara mencegah keputihan abnormal:

  1. Kita harus rutin membersihkan vagina dengan sabun dan air hangat setelah buang air kecil atau besar, kemudian keringkan. Oh ya, hindari membersihkan vagina dengan semprotan air ya. Hal ini akan menghilangkan bakteri baik di dalam vagina.
  2. Menggunakan celana dalam yang terbuat dari 100% katun untuk menjaga kelembaban vagina. Oh ya, hindari memakai celana dalam terlalu ketat ya, Girls.
  3. Hindari menggunakan sabun kewanitaan yang mengandung parfum, karena akan mengganggu keseimbangan bakteri baik.
  4. Ketika menstruasi, sebaiknya mengganti pembalut setiap 3-5 jam sekali untuk menjaga kebersihan vagina.
  5. Melakukan hubungan seks yang sehat dan aman.

Itu dia ulasan HaiGadis mengenai keputihan. Keep healthy ya Girls. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *